Kamis, 17 Januari 2013

GEMATI (music & visual project)

Tahun 2013 akhirnya datang juga setelah gonjang ganjing kiamat akan terjadi pada akhir tahun 2012. Untuk mengawali hidup pada tahun 2013, seperti biasa saya membuat  buku mukamalas vol 4. Buku berukuran kecil ini adalah buku yang direncanakan terbit tiap awal tahun dengan persiapan yang tidak muluk muluk. Berisi gambar, sket, coretan, tulisan, desain yang saya buat sepanjang tahun 2012 kemarin. Jadi persiapannya adalah mengumpulkan semua yang sudah kukerjakan dan menyortir , lalu kemudian disusun dan dibuat buku, sudah itu saja.
 buku mukamalas vol.4/ poto oleh moki
  buku mukamalas vol.4/ poto oleh moki

  buku mukamalas vol.4/ poto oleh moki

  buku mukamalas vol.4/ poto oleh moki

 buku mukamalas vol.4/ poto oleh moki

  buku mukamalas vol.4/ poto oleh moki
 
 buku mukamalas vol.4/ poto oleh moki
Hal lain yang saya kerjakan adalah ; saya akan membuat projek bernama ‘gemati’. Setidaknya ada yang akan saya kerjakan di tahun ini dan bisa menjawab pertanyaan teman saya dito yuwono pada kunjungannya ke rumah saya beberapa hari yang lalu tentang ‘apa yang akan dikerjakan pada tahun ini?. Kembali ke projek; ‘Gemati’ adalah kata yang berasal dari jawa yang berarti perhatian, menjaga dan merawat dengan baik. Tidak seperti beberapa projek yang sudah saya buat, projek ini adalah projek yang bersifat kolaboratif, jadi ada banyak kemungkinan membuat karya baru yang bahkan belum pernah saya buat atau bahkan saya pikirkan sekalipun. oke akan saya ceritakan dari awal asal muasal projek ini ada;
 logo gemati/ 2013
Mulanya projek ini digagas oleh teman saya yang bernama ign. Ade dan saya pada bulan desember 2012. 
 ign.ade
 saya alias moki
Tema dari projek ini adalah ‘jawa’, kenapa jawa? Karena sederhana saja..’kita adalah orang jawa dan berasal dari jawa. Pada projek ini kita akan bercerita tentang jawa dengan bahasa ungkap yang sering kita pakai, yaitu musik dan visual. Kita tidak akan bercerita muluk muluk mengenai konteks jawa yang besar dan sebagainya. Apa yang kita lihat disekitar kita, dan apa yang sedang terjadi di lingkungan kita, itu yang akan kita bahas di projek ini. Tema tema sederhana dan ringan yang akan kita pakai. Toh.. apa yang kita ceritakan hari ini adalah sejarah juga, walaupun dengan bahasa ringan sekalipun. 
  drawing nugroho (prambanan) / 2013
Beberapa tema karya yang berhubungan dengan jawa sudah kita siapkan. Pada pertemuan awal kita tertarik dengan beberapa sikap orang jawa yang unik, seperti nrimo ing pangdum, perkewuh, gugon tuhon, ngrasani, neng-nengan, dan beberapa sifat unik lainnya yang masih kita cari dan pilih, (silahkan cari sendiri arti dari sifat yang saya tulis barusan). Berangkat dari itu kemudian kita mulai bekerja. 
   drawing nugroho (prambanan) / 2013
Untuk menceritakan tema unik ini kita memilih musik untuk berkarya. Singkat cerita aransemen musik sudah kita buat, tinggal lirik dan vokal saja yang belum tergarap. Karena kita merasa tidak terlalu mahir membuat lirik dan bernyanyi kemudian kita mengundang nugroho menempati posisi itu. Sekaligus kolaborator pertama masuk dalam projek ini. Prambanan (sebutan akrab Nugroho) adalah teman kita sewaktu sekolah di SMSR dulu. Dia adalah pemuda yang taat beribadah ke gereja dan mempunyai suara yang bagus. Pernah juga dia bekerja sebagai penyiar radio rohani. Alasan kenapa dia dipanggil ‘prambanan’ adalah karena dia mempunyai rumah didekat candi prambanan, (sebuah alasan pemberian nama yang bahkan orang lain tidak terpikir). Akhirnya kita mulai sering bertemu dan bermusik. Beberapa lagu sudah ada dan siap direkam. Ada 4 lagu yang akan kita rekam pada bulan itu, 2 lagu dari ade dan 2 lagu lainnya dari saya.
 nugroho (prambanan) 
Sebelum semua ini terjadi ada sedikit cerita yang akan saya tulis untuk menyambung cerita projek gemati selanjutnya, ini ceritanya;
Pada beberapa bulan sebelumnya saya bertemu dengan seseorang bernama anggita oktafiana dewi, karena dia memanggil saya dengan ‘mas’ lalu saya akan memanggil dia dengan ‘dek’. Kita bertemu di sebuah café kecil bernama Lir shop. Sebuah tempat nyaman dan unik yang dibuat oleh teman saya, Mira asriningtyas. Pada waktu itu saya tidak sedang iseng iseng minum coklat atau makan spageti di café itu, tapi saya sedang membuat pameran tunggal disana, dan dek anggi adalah anggota Lir Space yang bersedia membantu membungkus poster yang akan saya pamerkan. Dari situlah kita bertemu.
 anggita oktafiana dewi
Sebenarnya kita sudah pernah bertemu sebelumnya di sebuah pertunjukan musik yang dibuat olehnya dan teman teman sekolahnya, kalau tidak salah di sebuah acara kelulusan sekolahnya, mereka memanggil ‘endah dan resha’ untuk berbagi kebahagiaan kelulusan mereka. Kemudian saya mengingat ingat pertemuan itu yang cuma berlangsung beberapa menit itu, pada waktu itu dia pernah bercerita kalau dia ingin belajar bermain drum, dek anggi mencoba mengembalikan ingatan saya. Mmm..oke..oke..remang remang saya mulai ingat. 
 endah dan resha
Sampai hari ini dia masih berminat untuk belajar bermain drum dan memutuskan saya sebagai guru drum. Saya meng’ iya’ kan keputusan itu, walaupun saya tau ini adalah keputusan yang salah. Karena saya bukan guru les drum. Semoga pelajaran bermain drum secara otodidak yang saya berikan ‘benar’. Singkat cerita (lagi) saya memintanya untuk ikut bergabung dalam projek gemati sebagai drummer. Lagi lagi ini adalah keputusan yang gegabah dan salah karena dia belum pernah sekalipun bermain drum, apalagi bermain drum di sebuah band. Tentu saja dia kebingungan dengan pertanyaan saya, bahkan saya pun bingung dengan pertanyaan yang sudah saya buat.

drawing moki/ 2013
oke..,sembari dek anggi belajar bermain drum, saya masih tetap meneruskan bermain musik dengan ade dan prambanan. Kemudian pada bulan itu kita memutuskan untuk merekam 4 lagu yang kita punya. Tapi disaat yang sama ade justru memutuskan untuk keluar dari projek ini. Ya..dia memutuskan keluar. Sampai detik ini saya belum pernah mendapat penjelasan dari ade semenjak dia memberi kabar tentang pengunduran dirinya dari projek ini lewat sms, jadi  saya tidak akan membahas terlalu jauh tentang keputusan dia keluar dari projek ini. Yang jelas tiap orang mempunyai  masa untuk membuat keputusan besar dalam hidupnya, dan ade sedang membuatnya. Jadi saya menghargai keputusan besarnya, sebesar dia membuatnya.
 drawing moki/ 2013
Dan projekpun tetap berjalan, sekarang tinggal saya dan prambanan. Di sela sela kita bermusik saya bertemu dengan seseorang yang bernama sandi kalifadani di sebuah acara bernama folk afternoon. Dari sana kita bercerita tentang apapun, mulai dari musik, yoga, hardcore sampai hal remeh temeh cerita nakal dari teman sekolahnya waktu SMA, yang bernama nanu, dia menaruh upil (kotoran hidung) di leher temannya, cerita aneh, ganjil dan wagu. Tapi saya suka cerita jenis seperti ini, jadi dari sini saya menyimpulkan; mungkin kita mengalami kecocokan perihal selera.
  sandi kalifadani
Lalu saya mengundang sandi datang ke rumah saya, sembari saya menyuguhkan air bening (karena dia tidak suka minum kopi atau teh)  saya bercerita tentang projek gemati dan memintanya bergabung di projek ini. Lalu dia tertarik untuk bergabung. Dan akhirnya yang biasanya saya cuma bertemu dengan prambanan saja, saat ini kita menjadi bertiga untuk bertemu dan bermusik. Sampai pada bulan ini kita sudah merekam 4 lagu dan kita masih akan tetap merekam lagu, sembari memikirkan kemungkinan karya jenis apa lagi yang akan tercipta pada projek ini.Karena di projek ini kita tidak hanya akan membuat karya berupa musik saja, seperti yang sudah saya tulis sebelumnya. Sumbangsih yang kolaborator berikan 'besar atau kecil', 'sedikit atau banyak' maka dia sudah menjadi bagian dari GEMATI.

kemudian sampai detik ini akhirnya projek ini bukan milik ade, atau bahkan milik saya sendiri (sebagai penggagas pertama). Projek ini adalah projek yang bersifat kolaboratif, dengan adanya kolaborator yang masuk pada projek ini, sekaligus mereka juga berhak memiliki projek ini juga. Semua kolaborator dapat bercerita dan membuat karya, selama konsep karya untuk bercerita masih sama dengan yang gemati pakai. 
 drawing moki/ 2013
itu saja cerita awal tahun dari saya, kalau kalian penasaran tentang projek ini, silahkan mengunjungi fb fanpage gemati disini dan membuka blog kami disini.

Rabu, 19 September 2012

'POWER OF THE SUN' (silk screen poster exhibition)

Pada bulan september 2012 saya membuat pameran tunggal, pameran kali ini sedikit berbeda dengan pameran pameran sebelumnya, karena saya menggunakan nama 'mukamalas' untuk berpameran.




dan berikut ini adalah tulisan dari Mira yang ada di katalog;

Power of the sun : hak istimewa untuk semua
Muncul pada era paska boom seni lukis membuat prihatmoko moki ‘terlahir’ sebagai seniman dengan harga yang tinggi sejak pameran tunggal pertamanya. Alih alih membuatnya terlena, hal ini membuat menyimpan banyak kegelisahan dan berbagai pertanyaan tentang proses. Proses merupakan suatu hal yang dipelajarinya secara terbalik tepat setelah keterkejutannya atas pasar seni rupa itu sendiri. Meskipun berasal dari keluarga seni dan mengenyam pendidikan seni sejak dini, perasaan ‘terlahir’ terlalu cepat itulah yang membuat moki terus berproses ulang, mencari makna, dan bereksperimen dengan berbagai media.

festivalist


anggisluka

Hal tersebut mendorongnya membuat beberapa karya kolaboratif, artist merchandising, membuat komik dan buku, hingga karya performance di ruang –ruang seni alternative. Baginya ada penyikapan yang berbeda dalam pembuatan karya seni di galeri komersil dan ruang seni alternative. Sebagai seorang seniman, ia merasa harus memiliki sikap yang mampu ditunjukan dengan karya karyanya dengan cara yang khas. Pemilihan lokasi Lir Space dalam project terbarunya ini merupakan usahanya untuk mencari tempat uji coba dan bereksperimen dengan ‘pasar seni rupa’ dalam lingkup yang (dalam hal ini) sangat kecil.

shopping list
 
black ribbon

airport radio

Dalam pameran ‘Power Of the Sun’. moki membuat poster 12 band yang terdiri dari berbagai genre dan berasal dari Jogja. Desain poster tersebut merupakan interpretasi visual moki atas band-band pilihan pribadinya. tidak hanya merasa memiliki kedekatan personal, moki pun tergabung sebagai anggota pada lima diantara duabelas band yang diposterkan (Punkasila, Airport Radio, Black Ribbon, Shopping List, dan The wonosari).

punkasila

the wonosari

Poster tersebut dibuatnya dengan memanfaatkan tehnik sablon yang merupakan ciri khas karya-karyanya. Tehnik ini dipilih karena kemampuannya untuk direproduksi tanpa menghilangkan unsur sentuhan tangan dan tetap memiliki nilai estetika khusus yang berkarakter. Tiap-tiap salinan karya tidak ada yang persis sama. Ketidaksempurnaan ini lah yang membedakan hasil sablon dengan poster hasil cetak digital yang serba seragam. Selain itu, moki merasa banyak terbantu karena tinggal di Negara tropis di mana matahari bersinar sepanjang tahun dan mempermudah proses sablonnya. Ia menyebut hak istimewa ini sebagai ‘Power Of The Sun’.
melancholic bitch

frau

individual life

sangkakala

stars and rabbit

Moki sendiri terbiasa mengerjakan suatu  karya berbasis hal-hal yang memiliki kedekatan dengan dirinya; dalam hal ini-musik, sablon dan kota Jogja. Pameran ini merupakan usaha Moki untuk mempertemukan bidang grafis dan music yang berjalan beriringan namun masih juga menimbulkan pertanyaan-pertanyaan atas penghargaan satu sama lain. Situasi ini dinilainya secara unik hanya berlaku di Jogja yang merupakan kota para ‘pembuat’. Selalu ada ego dan alasan  untuk membuat sendiri alih-alih membeli. Karena itulah terkadang system yang digunakan dalam beberapa kasus merupakan system barter/gotong royong yang unik dan penuh pemahaman. Kali ini moki melempar hak istimewa penentuan ‘harga’ atas sebuah karya kembali ke publik.


Masing masing desain poster ini hanya akan dicetak sebanyak 20 lembar dan ‘pasar seni rupa’ yang hadir dalam pameran ini; para musisi, mahasiswa, sampai ibu ibu rumah tangga memiliki hak yang sama untuk memilih dan menentukan sendiri harga yang bersedia mereka bayarkan untuk tiap karya yang mereka inginkan. Hal ini merupakan bentuk eksperimen sang seniman atas pasar senirupa alternative, khas dengan sedikit sentuhan humor ala Moki yang menggelitik. Maka, selamat memanfaatkan hak istimewa anda dan selamat berbelanja!
Mira Asriningtyas 


dan berikut ini adalah tulisan mas Terra;
Tempelan yang ditempel
Poster dan grup musik. Pada poster inilah musik menemukan salah satu jodoh visualnya. Tentu saja setelah pilihan-pilihan jodoh visual lainnya seperti sampul album, video musik, tata panggung, dan penampilan pemusiknya sendiri. Pada awalnya musik ditampilkan murni hanya musik, sehingga pada konser konser musik klasik para pemainnya berpenampilan netral, tanpa gerakan yang tidak perlu, bahkan tanpa tata lampu. Konsep serupa masing diusung hingga kini, dan bersanding dengan musik yang ditampilkan justru hanya pada unsur visualnya. Unsur visual nyatanya hanyalah suatu ‘tambahan’ (dari suatu inti : musik), yang membuatnya menuju pada sebuah karya bergenre popular. Tambahan ini oleh seorang kawan disebut ‘tempelan’, yang dimanfaatkan untuk meraih variasi dan kekhasan. Tempelan awal pada musik adalah lirik. 





Pada pameran moki ini, kita lihat tempelan musik yang konseptuil dan faktuil sekaligus. Karyanya merupakan tempelan kesekian pada dunia musik (industri), awalnya sebagai penyedia informasi: dalam rupa poster, yang sejatinya berupa media informasi berupa cetakan grafis yang lazimnya ditempelkan. Poster dalam musik kemudian tak hanya dimanfaatkan sebagai penyedia informasi pentas atau pertunjukan namun dimanfaatkan untuk mengabadikan idola kita dalam ruang privat, baik nyata maupun maya. Semangat belajar gitar masa muda tahun 1980an akhir akan semakin menggelora jika kita menatap Iwan Fals dibalik pintu kamar, atau merasa sudah melawan kemapanan ketika poster telanjang dada kelompok Slank hadir disamping jendela, dan malu malu mau ketika poster spice girls bonus majalah Hai menggantikannya. 

poster slank

Media cetak majalah memberi peran besar pada jasa perposteran ini, yang kadang disebut pin-up karena berukuran lebih kecil seluas area majalah. Hampir semua poster tersebut hadir dengan eksekusi visual fotografi, karena dimanfaatkan dunia industry untuk merepetisi penampilan musisi supaya menjadi dagangan, dan tak banyak yang mengolahnya dengan eksekusi visual lain. Moki yang juga musisi, anak band, sekaligus perupa grafis, sadar betul bahwa kebutuhan berposter bukan dengan wajah musisinya ini kemudian menjadi attitude juga bagi sebuah band atau musisi, ideologi kecil-kecilan yang tidak melulu melayani industry dengan komodifikasi fisik pemusik, namun kemudian bisa menawarkan jalan lain untuk menyatukan alas an bermusik dan tuturan visualnya.

Tidak semua musisi bermusik untuk menjadi idola, atau supaya menjadi lebih berharta. Karya-karya moki mengingatkan pada sikap grup Pearl Jam yang enggan tampil pada sampul album maupun poster  konser, dan memilih menyewa seniman untuk membuat ilustrasi grafis yang menerjemahkan benang merah album, atau Art Chantry yang memilih eksekusi manual, terutama cetak saring untuk master design sampul-sampul album yang dikerjakannya.Kedua belas grup music dirangkum dan diterjemahkan secara visual oleh moki, sesuai seleranya tentu saja, dalam bentuk poster yang kolektibel yang diharapkan mampu menjadi penghubung antara grup music dengan para pendengar fanatiknya, menjadi lubang intip bagi calon pendengar, dan tempelan penghias ruangan bagi siapa saja. Sesonic apa grafis yang ditampilkan moki, bergantung pada tafsir masing-masing pribadi dengan atau tanpa diiringi musiknya. Sikap berkesenian serupa, diharap membuka jalan alternative bagi hadirnya gig poster, band poster dan variasi tempelan visual lainnya yang lebih khas dalam scene musik Indonesia.
Terra Bajraghosa

semua poto oleh dito yuwono dan Lir space

Senin, 23 April 2012

JOGJA AGRO POP (group exhibition)

 Pada bulan april tanggal 10, 2012 ada sebuah pameran seni visual yang bertempat di Taman Budaya Yogyakarta, judul pamerannya adalah 'JOGJA AGRO POP'. Di dalam pameran ini ada sekitar 35 seniman termasuk saya, memamerkan karya visual yang mempunyai kecenderungan yang sama. Disaat yang bersamaan juga ada peluncuran buku yang ditulis/dibuat oleh Nano Warsono berjudul 'JOGJA AGRO POP, negosiasi identitas kultural dalam seni visual'.

poto display karya moki

 'JOGJA AGRO POP' adalah sebuah nama yang digunakan sebagai 'ground' untuk menempatkan sebuah kecenderungan yang lain dalam perkembangan seni rupa Yogyakarta. Sebuah kecenderungan yang berbeda yang terpengaruh dengan perkembangan budaya global, budaya 'subkultur'. budaya anak muda, seni alternatif, dan bentuk bentuk idiom budaya populer.
-Nano Warsono-

Dan berikut ini adalah desain karya saya di pameran tersebut;

beras


ketela

buncis

 cengkeh

 jagung


poto display karya moki


  kacang ijo

  mangga


 tembakau


 kelapa

 Beberapa media online yang meliput pameran ini bisa di cek di sini;

 http://www.jogjatv.tv/berita/11/04/2012/pameran-seni-rupa-%E2%80%9Cjogja-agro-pop%E2%80%9D

http://rrijogja.co.id/berita/headline-news/38-headline-news/1280-pameran-qagro-popq-di-taman-budayayogyakarta 
http://jogjanews.com/pameran-jogja-agro-pop-jalan-alternatif-bagi-seni-rupa 

 media cetak